Hukum, News  

Para Perempuan Tangguh Pemberantas Korupsi

JAKARTA, (BS) – Dalam momentum peringatan Hari Kartini, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) secara khusus memberikan apresiasinya kepada seluruh pegawai perempuan di lingkungan KPK. Kisah  perempuan mewakili insan KPK kami tuturkan di sini, karena semangat mereka dalam memberantas korupsi mungkin dapat menjadi inspirasi.

Tercatat ada 509 pegawai perempuan dari total keseluruhan 1551 pegawai di KPK, atau sebesar 33%. Mereka tersebar di berbagai unit, yaitu Sekretariat Jenderal; Kedeputian Bidang Informasi dan Data; Pencegahan dan Monitoring; Pendidikan dan Peran Serta Masyarakat Koordinasi dan Supervisi, hingga Kedeputian Bidang Penindakan.

Ada stereotip yang mengemuka di tengah masyarakat, bahwa bekerja di bidang pemberantasan korupsi menuntut sisi maskulinitas. Lantaran punya risiko tinggi, banyak ancaman, dan bahaya yang menghadang. Bekerja tidak hanya mengandalkan akal untuk menangkap koruptor yang cerdik, namun juga fisik dan mental yang kuat. Waktu bekerja yang tak menentu, hingga harus bergerilya turun ke lapangan untuk mencari bukti perbuatan para pelaku korupsi.

Namun para pegawai perempuan di lembaga antirasuah ini membuktikan untuk tidak pernah pantang surut. Justru sebaliknya, bekerja dengan penuh profesionalitas dengan berbagai hasil dan capaian kinerja yang optimal.

Seperti kisah salah satu penyidik perempuan yang dimiliki KPK, bernama Surya Tarmiani. Setiap harinya Surya melakukan kegiatan penyidikan yaitu mengumpulkan barang bukti, pemeriksaan saksi, menganalisis bukti-bukti dalam bentuk dokumen maupun elektronik. Pekerjaannya menuntut pula untuk turun ke lapangan melakukan penggeledahan.

Di bagian Penindakan, jumlah penyidik perempuan lebih sedikit dibandingkan penyidik laki-laki. Dominasi pegawai laki-laki tidak membuat dirinya takut jika harus berdiskusi soal perkara, bekerja bersama, bahkan saat menghadapi pemeriksaan yang tersangkanya laki-laki.

Seringkali penyidik Surya mendapat intimidasi saat memeriksa, dengan jawaban-jawaban sulit dan nyeleneh dari para tersangka kaum lelaki. Beberapa dari mereka terkadang memandang sebelah mata, jika penyidik perempuan bisa ‘diluluhkan’.

Namun, berbagai taktik maupun ancaman dari para terperiksa, tidak membuat gentar penyidik Surya untuk terus melakukan proses penyidikan. Penyidik Surya tetap profesional dan fokus pada pekerjaannya. Prinsipnya adalah perempuan bisa setara dan berperan dalam situasi dan rumpun profesi apapun.

“Memang penyidikan itu suatu pekerjaan yang dominannya dilakukan oleh laki-laki. Jadi memang perempuan kalau di situ (Direktorat Penyidikan) hanya (berjumlah) sebagian kecil saja. Memang banyak tantangannya, banyak di awal pasti tidak menyangka akan menghadapi pekerjaan atau risiko semacam itu.” katanya.

Lebih jauh, Surya mengungkapkan alasannya memilih pekerjaan penyidik karena semata ingin menegakkan nilai-nilai kebenaran yang ada di masyarakat. Perbuatan korupsi adalah perbuatan yang tidak benar dan masyarakat harus tahu itu.

“Jadi jangan sampai masyarakat tidak tahu kebenarannya. Yang tidak benar jadi lazim dan yang benar jadi tidak lazim. Kebenaran itu harus diperjuangkan. Jadi masyarakat terbiasa dengan nilai-nilai kebenaran,” ujarnya. (***)